MEDAN, 20 Oktober 2025 – Sebanyak 483 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FEB UMSU) mengikuti yudisium yang digelar hari ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 313 orang berasal dari Program Studi Manajemen, 107 dari Akuntansi, 30 dari Perpajakan, dan 33 dari Ekonomi Pembangunan. Yudisium ini menjadi penanda berakhirnya masa studi sekaligus awal bagi para lulusan untuk menentukan langkah selanjutnya setelah meninggalkan bangku kuliah.
Dalam sambutannya, Dekan FEB UMSU Dr. Radiman mengingatkan bahwa lulusan saat ini akan memasuki dunia kerja di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah. Ia menyinggung melemahnya nilai tukar rupiah, meningkatnya harga bahan pokok, melemahnya daya beli masyarakat, serta sentimen negatif yang terjadi di Bursa Efek Indonesia. Kondisi tersebut menjadi tantangan nyata yang akan dihadapi generasi muda setelah menyelesaikan pendidikan.
Dr. Radiman juga menyoroti bahwa program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih belum sepenuhnya maksimal dalam menyerap tenaga kerja. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga semakin cepat, terutama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang mulai mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia.
“Kecerdasan buatan atau AI sudah mulai menggantikan peran manusia. Karena itu, setelah selesai wisuda, alumni FEB sudah saatnya menentukan pilihan,” ujar Dr. Radiman.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat para lulusan pesimis. Justru lulusan harus memiliki kesiapan yang lebih baik, baik dari sisi kemampuan, mental, maupun keberanian mengambil keputusan. Ia kemudian menyampaikan lima pesan yang dinilainya penting sebagai bekal menghadapi perubahan ekonomi dan dunia kerja.
Pesan pertama adalah percaya diri dan terus belajar. Dr. Radiman meminta para lulusan tidak mudah merasa tertinggal atau tidak mampu ketika menghadapi persaingan yang semakin ketat. Kepercayaan diri harus dibangun dengan kesadaran bahwa kemampuan seseorang selalu dapat berkembang selama memiliki kemauan untuk belajar.
“Percaya diri bahwa kita bisa berkembang. Kalau belum bisa, maka teruslah belajar,” pesannya.
Menurutnya, pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Ilmu dan kemampuan yang dimiliki hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja beberapa tahun mendatang. Karena itu, gelar sarjana tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti meningkatkan kapasitas diri.
Pesan kedua adalah disiplin dengan cara menghargai waktu. Dr. Radiman mengingatkan bahwa waktu merupakan sesuatu yang tidak dapat dibeli kembali. Para lulusan, menurutnya, harus mampu menggunakan waktu dengan baik untuk meningkatkan keterampilan, mencari pengalaman, membangun relasi, melanjutkan studi, maupun mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
“Waktu tidak bisa dibeli. Dengan menghargai waktu, kamu menjadi orang yang beruntung,” kata Dr. Radiman.
Ia menilai banyak kesempatan dapat hilang ketika seseorang tidak disiplin dalam mengelola waktu. Karena itu, setelah lulus, alumni diharapkan tidak menghabiskan waktu hanya dengan menunggu kesempatan, tetapi mulai bergerak mencari dan menciptakan peluang.
Pesan ketiga yang disampaikan adalah berani mengambil tanggung jawab dan tidak terlalu bergantung kepada orang lain. Menurut Dr. Radiman, kehidupan setelah kampus akan menuntut para lulusan untuk lebih mandiri dalam mengambil keputusan. Mereka tidak bisa selalu menunggu bantuan atau menggantungkan masa depan kepada pihak lain.
“Ambil tanggung jawab dan jangan terlalu bergantung kepada orang lain,” tegasnya.
Sikap tersebut dinilai penting di tengah kondisi lapangan kerja yang semakin kompetitif. Para lulusan harus berani menentukan pilihan, menghadapi risiko, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil, baik ketika memilih bekerja, melanjutkan pendidikan, maupun membangun usaha sendiri.
Pesan keempat adalah menjaga informasi yang masuk ke dalam pikiran. Dr. Radiman mengingatkan bahwa generasi muda saat ini hidup dalam arus informasi yang sangat cepat. Berbagai berita negatif mengenai ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, PHK, penurunan daya beli, hingga ancaman AI dapat memengaruhi cara berpikir dan semangat seseorang apabila tidak disaring dengan baik.
“Jaga informasi yang masuk dalam pikiranmu, apalagi berita negatif yang dapat merusak dan melemahkanmu,” ujarnya.
Menurutnya, mengikuti informasi tetap penting, tetapi lulusan harus mampu membedakan informasi yang bermanfaat dengan informasi yang justru menimbulkan ketakutan dan pesimisme. Informasi seharusnya digunakan untuk membaca situasi dan mengambil keputusan, bukan menjadi alasan untuk takut menghadapi masa depan.
Pesan kelima adalah menjaga hubungan dengan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidup. Dr. Radiman mengingatkan agar para lulusan tidak melupakan orang tua, saudara, guru, dosen, sahabat, dan almamater setelah nantinya berhasil dalam kehidupan maupun karier.
“Jaga hubungan dengan almamater, orang tua, saudara, guru, dosen, dan sahabatmu,” pesannya.
Menurutnya, keberhasilan seorang mahasiswa hingga menyelesaikan pendidikan tidak hanya merupakan hasil perjuangan pribadi, tetapi juga melibatkan dukungan banyak pihak. Karena itu, hubungan baik dan rasa terima kasih perlu tetap dijaga meskipun nantinya para alumni menempuh jalan yang berbeda-beda.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Dr. Radiman menyebut ada tiga pilihan besar yang dapat ditempuh alumni FEB UMSU. Pilihan pertama adalah melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, terutama bagi mereka yang ingin meningkatkan kompetensi dan memperdalam keilmuan. Pilihan kedua adalah bekerja di dunia usaha, industri, pemerintahan, maupun berbagai sektor profesional lainnya.
Namun, pilihan ketiga menjadi salah satu yang paling ditekankan, yakni menciptakan lapangan pekerjaan. Dr. Radiman melihat pilihan tersebut memiliki manfaat yang jauh lebih luas karena tidak hanya berkaitan dengan masa depan pribadi seorang lulusan, tetapi juga dapat membantu kehidupan orang lain.

“Setelah selesai wisuda, alumni FEB saatnya menentukan pilihan: melanjutkan studi, bekerja di dunia usaha atau industri, atau menciptakan lapangan pekerjaan. Yang terakhir ini sangat penting karena akan bermanfaat dan membantu menyelamatkan kehidupan orang lain,” ujarnya.
Menurutnya, ketika seorang lulusan mampu membangun usaha dan mempekerjakan orang lain, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh pekerja tersebut. Ada keluarga yang ikut memperoleh penghasilan dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena itu, lulusan FEB diharapkan tidak hanya berpikir menjadi pencari kerja, tetapi juga berani menjadi pencipta lapangan kerja.
Dorongan tersebut dinilai semakin relevan dengan kondisi ekonomi saat ini. Ketika daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan, penyerapan tenaga kerja belum maksimal, dan teknologi mulai menggantikan sebagian pekerjaan manusia, kehadiran wirausaha baru menjadi salah satu jalan untuk menciptakan peluang ekonomi. Bekal keilmuan di bidang manajemen, akuntansi, perpajakan, dan ekonomi pembangunan diharapkan dapat menjadi modal bagi alumni untuk membangun usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Dr. Radiman juga mengingatkan agar perkembangan AI tidak hanya dipandang sebagai ancaman. Para lulusan justru harus menjadikannya alasan untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan. Mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang dibandingkan mereka yang berhenti belajar setelah memperoleh gelar.
Bagi 483 lulusan FEB UMSU, yudisium kali ini bukan sekadar seremoni akademik. Momentum tersebut menjadi awal dari fase baru yang menuntut keberanian dalam menentukan pilihan hidup. Di tengah tekanan ekonomi, perubahan dunia kerja, serta perkembangan teknologi yang semakin cepat, para lulusan diminta tetap percaya diri, disiplin menghargai waktu, berani mengambil tanggung jawab, menjaga pikiran dari informasi yang melemahkan, serta tidak melupakan orang-orang yang telah berjasa dalam perjalanan mereka.
Pada akhirnya, pilihan setelah wisuda berada di tangan masing-masing alumni. Ada yang akan melanjutkan pendidikan, ada yang memilih masuk ke dunia usaha dan industri, dan ada pula yang diharapkan berani membangun usaha sendiri. Bagi Dr. Radiman, pilihan apa pun yang ditempuh harus membawa satu semangat yang sama: terus berkembang dan memberikan manfaat bagi orang lain.






